STRATEGI MEMUNCULKAN IDE



STRATEGI MEMUNCULKAN IDE
ATAU PELUANG USAHA



Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan
Dosen Pengampu:
Mei Rina Hadi, M.Pd.




Disusun oleh:
1.      Amelia Dimas Izzati       (1724143021)
2.      Diana Azizah                  (1724143081)
3.      Nyovela Dwi S.              (1724143200)
4.      Surur Istika                     (1724143240)



JURUSAN TADRIS MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN AKADEMIK 2017/ 2018

 


BAB I
PEMBAHASAN

A.      Definisi Ide dan Peluang Usaha
       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ide adalah rancangan yang tersusun di pikiran. Sedangkan Peluang menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kesempatan (ruang gerak), baik dalam bentuk konkret maupun dalam bentuk abstrak. Sehingga peluang kewirausahaan dapat diartikan kesempatan pasti yang bisa didapatkan seseorang atau lebih dengan mengandalkan potensi diri yang ada serta memanfaatkan berbagai kesempatan atau peluang yang dengan segera diambil.
       Peluang kewirausahaan dalam pengertian lebih mendalam dapat dibagi menjadi dua yakni peluang internal dan peluang eksternal. Peluang internal merupakan peluang yang memang sudah ada dalam diri wirausaha sehingga menjadi dasar untuk membaca keadaan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Sedangkan peluang eksternal merupakan peluang yang lahir dari proses pembacaan kondisi atau respon seorang wirausaha atas situasi yang menurutnya berpotensi untuk menjadi peluang (kesempatan pasti).
1.        Keterkaitan Ide dan Peluang Kewirausahaan
       Seorang wirausaha dapat menambah nilai suatu barang dan jasa melalui inovasi. Keberhasilan wirausaha dicapai apabila wirausaha menggunakan produk, proses dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk menggali perubahan. Oleh sebab itu, inovasi merupakan instrument penting untuk memberdayakan sumber-sumber agar menghasilkan sesuatu yang baru dan menciptakan nilai tersendiri. Ketangguhan kewirausahaan sebagai penggerak perekonomian terletak pada kreasi baru untuk menciptakan nilai secara terus-menerus. Wirausaha dapat menciptakan nilai dengan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-idenya dan akhirnya ia menjadi pengendali usaha.



2.        Sumber Ide
a.         Pengalaman Pribadi
       Dasar utama ide awal adalah pengalaman pribadi, baik saat bekerja maupun di rumah. Pengetahuan yang didapatkan dari pekerjaan yang terakhir maupun yang sekarang seringkali membuat seseorang untuk melihat kemungkinan memodifikasi produk yang telah ada, memperbaiki pelayanan, menduplikasi konsep dalam lokasi yang berbeda.
b.        Minat/ Hobi 
       Kadangkala minat tumbuh di luar statusnya sebagai minat dan menjadi bisnis. Seseorang yang memiliki suatu minat/ hobi terhadap suatu bidang tertentu, akan melahirkan suatu ide untuk mendirikan usaha yang berkaitan dengan hobi tersebut
c.         Penemuan Secara Tidak Sengaja
       Melibatkan sesuatu yang disebut “serendepitas” (kemampuan menemukan sesuatu) atau sejenis kemampuan untuk membuat penemuan yang diinginkan secara tidak sengaja.
d.        Pencarian Ide dengan Penuh Pertimbangan
       Sebuah ide awal dapat muncul dari percobaan yang dilakukan oleh wirausaha untuk menemukan ide baru. Usaha pencarian sedemikian rupa dapat berguna karena hal tersebut merangsang kesiapan pikiran.
       Sedangkan Menurut hasil survey Peggy Lambing (2000: 90), sekitar 43% responden (wirausahawan) mendapatkan ide bisnis dari pengalaman yang diperoleh ketika bekerja di beberapa perusahaan atau tempat-tempat profesional lainnya.
       Sebanyak 15% responden telah mencoba dan mereka merasa mampu mengerjakannya dengan lebih baik. Sebanyak 1 dari 10 responden (11%) dari wirausaha yang disurvey memulai usaha untuk memenuhi peluang pasar, sedangkan sebanyak 46% lagi karena hobi.

       Salah satu sifat wirausaha adalah kemampuannya dalam mencermati peluang usaha dengan memunculkan kemampuan berpikir kreatif dan inovatif dan mewujudkannya sebagai sarana mencapai kesejahtaraan hidup diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Apabila anda jeli dalam mengamati lingkungan sekitar, terdapat berbagai sumber peluang usaha baru. Secara umum berbagai hal yang dapat menjadi gagasan atau peluang untuk berwirausaha adalah:
1.        Produk yang Sudah Ada
       Produk yang sudah beredar di pasaran dapat dijadikan sumber gagasan untuk berusaha usaha dengan jalan meniru produk tersebut. Produk yang akan ditiru dapat berupa produk baru yang saat ini masih diminati. Ingatlah bahwa selera konsumen cenderung berulang. Perhatikanlah model baju dan lagu-lagu yang saat ini populer. Sebagian dari produk tersebut merupakan tiruan dari produk-produk yang di masa lalu pernah berjaya. Tetapi produk yang akan ditawarkan oleh wirausaha harus memiliki perbedaan (walaupun sedikit) dari produk yang ditiru tersebut. Perbedaan tersebut dapat berupa kualitas (kenyamanan, kegunaan atau kesederhanaan) dan harga.
       Disamping meniru produk yang sudah berhasil di pasaran, sumber gagasan lain adalah produk yang gagal di pasaran. Wirausaha harus mencari tahu penyebab kegagalan produk tersebut kemudian melakukan penyempurnaan. Yang harus diperhatikan adalah masalah hak paten produk tersebut. Wirausaha harus mencari informasi apakah produk yang ditiru telah dipatenkan atau belum. Jika sudah dipatenkan, wirausaha harus mencari tahu batasan-batasan tiruan yang tidak diijinkan.
2.        Pameran Dagang
       Pameran dagang umumnya dimanfaatkan oleh pengusaha untuk menginformasikan produk-produk barunya. Anda dapat mencari ide dengan melihat produk-produk baru tersebut. Disamping itu, dengan mengunjungi pameran. Anda dapat mencoba peluang kerja sama dengan pemilik produk untuk memasarkan produk mereka. Ingat, seorang wirausaha tidak harus menghasilkan produk berupa barang, tetapi dapat juga menawarkan produk berupa jasa, termasuk jasa memasarkan produk orang lain.
3.        Lembaga Pemerintah
       Setidaknya terdapat beberapa lembaga pemerintah yang memiliki tugas membantu menginformasikan berbagai hal tentang produk dan dunia usaha. Departemen perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Pertanian, Kementrian Koperasi dan UKM serta dinas terkait di tingkat propinsi dan kabupaten yang menerbitkan informasi mengenai sektor dunia usaha. Diantara lembaga pemerintahan tersebut ada yang menawarkan bantuan permodalan dalam bentuk pinjaman bergulir yang disalurkan melalui kelurahan-kelurahan bekerjasama dengan Dewan Kelurahan setempat dan lembaga keuangan, semisal Bank Perkreditan Rakyat dan Koperasi Desa.
4.        Lembaga Pendidikan
       Lembaga pendidikan, misalnya perguruan tinggi memiliki misi tidak hanya mengembangkan pendidikan dan pengajaran tetapi juga mengembangkan penelitian dan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Dengan membaca hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat, anda dapat menemukan ide berkaitan dengan produk yang akan dikembangkan.
5.        Media Informasi
       Media informasi seperti buku, koran, majalah dan internet merupakan sumber informasi yang juga dapat anda manfaatkan. Apalagi saat ini dengan meningkatnya perhatian pada kewirausahaan, banyak media yang menyediakan kolom atau rubrik khusus bahkan sepenuhnya membahas tentang kewirausahaan. Perpustakaan daerah dan perpustakaan keliling juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat mencari informasi terkait peluang usaha.
Setelah peluang muncul dan diperoleh, perlu kita amati apakah peluang tersebut merupakan peluang emas ataukah bukan. Untuk itu perlu kita cermati apakah peluang tersebut mengandung unsur-unsur antara lain:
1.        Apakah sedang diperlukan oleh pasar?
2.        Apakah peluang tersebut memcahkan kesulitan atau masalah yang sedang dihadapi di pasar?
3.        Apakah peluang tersebut menyempurnakan dari produk sebelumnya?
4.        Apakah peluang tersebut benar-benar beda dan ada nilai tambah?
5.        Apakah peluang tersebut merupakan temuan yang original?
6.        Apakah peluang tersebut memberikan keuntungan yang nyata?
7.        Apakah peluang tersebut ada yang dibanggakan oleh konsumen?
8.        Apakah peluang tersebut dapat diwujudkan?
Jika unsur-unsur diatas terpenuhi, maka peluang tersebut merupakan peluang emas, satu hal yang terpenting bahwa peluang harus diciptakan oleh kita sendiri. Menurut Hendro dan Chandra tentang konsep peluang adalah; peluang usaha berati merebut pasar dari pesaing; menggantikan posisi yang ada di pesaing; mengisi kekosongan yang diperlukan; menghancurkan pimpinan pasar; dan melengkapi ketidaksempurnaan pasar.
Setelah peluang di peroleh kaitanya dengan kondisi diri kita, apakah peluang usaha tersebut berkaitan dengan pekerjaan yang dikuasai dan seluk beluk usahanya: keahlian yang dikuasai: hobi dan kesukaan kita: pengalaman: pengatahuan yang dikuasi:kebiasaan  yang sudah sering kita lakukan.[1]

B.       Metode-metode untuk Memunculkan Ide
1.        Kelompok Fokus
       Hal ini dilakukan dengan membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari  konsumen, potensial dari berbagai latar belakang atau karakteristik sosial ekonomi yang ditargetkan perusahaan berjumlah 8 hingga 14 orang, dipimpin oleh seorang moderator guna mendiskusikan suatu permasalahan yang dilontarkan salah seorang anggota kelompok guna memunculkan ide tentang produk baru yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan dapat dipasarkan.
       Metode ini sangat berguna untuk menyaring beberapa konsep produk yang ada agar selanjutnya dapat dianalisis menggunakan pendekatan kuantitatif.
2.        Bertukar Pikiran
       Metode ini dapat digunakan dalam pengembangan produk baru didasarkan fakta bahwa peningkatan kreativitas orang dapat dirangsang dengan cara dipertemukan dengan orang lain dan diikutsertakan dalam suatu diskusi berkelompok. Dengan cara ini ide-ide baru dapat muncul.
Metode ini dapat lebih efektif jika didiskusikan didasarkan pada kategori produk atau wilayah pasar tertentu.
       Adapun peraturan dalam metode ini adalah:
a.         Tidak diperkenankan adanya komentar negatif/ kritik terhadap pendapat seseorang
b.        Diharapkan berpikir sebebas mungkin
c.         Diusahakan memperoleh sejumlah besar ide-ide baru
d.        Diperbolehkan adanya kombinasi dari ide-ide yang dikemukakan dalam diskusi untuk memunculkan suatu ide baru
3.        Analisis Masalah
       Metode ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner pada para konsumen atau calon konsumen potensial untuk memperoleh tanggapan mengenai kinerja suatu produk pada kategori tertentu atau persepsi terhadap suatu konsep produk baru yang akan dipasarkan. Hasil yang diperoleh kemudian dianalisis secara mendalam agar keputusan yang dibuat benar-benar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen.

C.      Jenis-jenis Usaha
       Adapun jenis jenis bidang usaha adalah sebagai berikut: 
1.        Bidang usaha pertanian (agriculture), meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan dan perkebunan;
2.        Bidang usaha pertambangan (mining), meliputi usaha galian pasir, galian tanah, batu dan bata;
3.        Bidang usaha pabrikasi (manufacturing), meliputi usaha industri, assemblasi dan sintesis.
4.        Bidang usaha kontruksi (construction), meliputi usaha konstruksi bangunan, jembatan, pengairan, dan jalan raya;
5.        Bidang usaha perdagangan (trade), meliputi usaha perdagangan kecil (retailer), grosir, agen, dan ekspor import;
6.        Bidang usaha jasa keuangan (Finacial Service) : perbankan, asuransi dan koperasi;
7.        Bidang Usaha Jasa Perorangan (Personal Service), meliputi usaha potong rambut, saloon loundry, catering;
8.        Bidang Jasa-jasa Umum (Public Sevice), meliputi usaha pengangkutan, pergudangan, wartel dan distribusi;
9.        Bidang jasa wisata (tourism), meliputi berbagai kelompok; dimana berdasarkan UU No. 9/1990 tentang Keparawisataan diantarannya: jasa biro perjalanan wisata, jasa agen perjalanan wisata, jasa pramuwisata, jasa konvensi perjalanan intensive dan pameran dan jasa konsultan parawisata.

D.      Strategi Memulai Usaha
       Langkah Memulai Usaha Sendiri:
1.        Start with a Dream  (Mulai Dengan Suatu Mimpi)
       Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started: Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun idea yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata ‘tidak bisa’ ataupun ‘tidak mungkin’.
2.        Love The ProductS or Services (Mencintai Jasa atau Hasil)
       Cintailah Produk anda. Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan pada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa masa sulit. Enthusiatism and Persistence: Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.


3.        Learn The Basics of Business (Belajar Dasar untuk Business)
       Pelajarilah fundamental business. Beyond the *buy low, sell high, pay late, collect early*: Tidak akan ada sukses tanpa ada sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar–dasar usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik. Carilah guru yang baik.
4.        Willing to Take Calculated Risks (Berkeinginan Mengambil Resiko yang Dihasilkan)
       Ambillah resiko. The Gaint that u will be able to achiave is directly propoltional to the risk taken: Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia usaha, karena hasil yang akan dicapai akan proporsional terhadap resiko yang akan diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik-baik akan lebih banyak Memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan ‘entreprenneur’ dengan ‘manager’. Entrepreneur akan lebih dibutuhkan pada tahap awal pengembangan perusahaan, dan manager dibutuhkan akan mengatur perusahaan yang telah maju.
5.        Seek Advice, but Follow Your Belief (Mencari Nasehat, tetapi Mempunyai Keyakinan)
       Carilah nasehat dari pekarnya, tapi ikuti kata-kata kita. Consult Consultants, ask the experts, but follow, but follow your hearts. Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan indera ke enam-nya. Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual. Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kata kunci suksesnya. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangkan usaha pada fase itu. 
6.        Work Hard, 7 Day A Week, 18 Hours A Day  (Kerja Keras, 7 Hari Adalah Suatu Pekan, 18 Jam Adalah Suatu Hari)
       Kerja keras. Ethos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh work a holics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan bussiness-nya. Melamunkan dan memimpikan kerjanya.
7.        Make Friends As Much As Possible (Berteman Sedapat/ Sebanyak Mungkin)
       Bertemanlah sebanyak banyaknya. Pada harga dan kualitas yang sama, orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit.
8.        Deal with Failures (Berhadapan Dengan Kegagalan)
       Hadapi kegagalan. Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha, selama kegagalan itu tidak mematikan. Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bila mana itu sampai terjadi, bersiaplah dan hadapilah!
9.        Just do It, Now! (Hanya Sekarang)
       Lakukanlah sekarang juga. Bila anda telah siap, lakukanlah sekarang juga. Manager selalu melakukan: ready-aim-shoot, tetapi entrepreneur sejati akan melakukan ready-shoot-aim. Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita.
10.    Inovatif dan Kerja Keras untuk Sukses



DAFTAR PUSTAKA

Fadiati, Ari dkk. 2011. Menjadi Wirausaha Sukses. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba Empat.
Suryana. 2008. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat, Cet: keempat.
Geoffrey G Meredith et al. 2000. Kewirausahaan Teori dan Praktek. PPM.






[1] Ari Fadiati & Dedi Purwana, Menjadi Wirausaha Sukses, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hal. 43-46.

Comments

Popular Posts